Selasa, 07 Februari 2012

Berserah diri pada-MU ALLAH ku


Ya Allah.... Ya Robbii....
Sungguh Pengetahuan-MU mendahuli pengetahuan kami bahkan pengetahuan-MU meliputi tiap-tiap sesuatu. Lalu bagaimana mungkin kami bisa lepas dari pandangan Engkau Ya Robb....
Setiap detik dalam gerak dan diam semuanya berada dalam Genggaman Engkau, bahkan darah yang mengalir pada diri kami itupun atas Qudrat Iradat Engkau.
Begitu pula jantung berdetak, nafas naik dan turun, setiap sel-sel di diri ini ada yang mati, Engkau hidupkan lagi atas Kehendak Engkau,dan ada pula sel-sel yang mati Engkau biarkan dalam keadaan mati, itupun atas Kehendak Engkau.

Lalu pantaskah bagi kami mencari Tuhan selain Engkau....???
Pantaskah bagi kami untuk mencari Pelindung selain Engkau…???
Sedangkan Qudrat Iradat Engkau berlaku atas diri Kami.
Pandangan dan perhatian Engkau atas diri kami itu semua didasari Cinta Kasih-MU kepada kami.

Yaa….Muqollibal Quluub (wahai yang membolak balikkan Hati).
Balikkan lah hati kami hanya semata-mata tertuju hanya Kepada Engkau semata.
Balikkan hati kami agar mengerti akan karunia nikmat Cinta kasih-MU kepada kami, hanya kepada-MU lah kami bergantung dan memohon karena Engkaulah sebaik-baik yang mengurus diri kami dan sebaik-baik yang mengetahui yang terbaik akan diri kami.

Yaa…Malikul Mulk...
Raja yang merajai seru Sekalian Alam Amat Maha Pengasih dan Penyayang,
Engkau lah RAJA yang MAHA AGUNG dan MAHA BESAR, RAJA yang menguasai akan diri kami yang hina ini…
Maka Kuasailah diri kami ini dengan Ridho-Mu Yaa….Maknuun, dengan KelembutanMU Yaa….Mahzuun.
Keluarkan kami2 dari Kegelapan Hati, dari Kekosongan Iman dan Tauhid, dari butanya Kesadaran ttng Ma’rifatMu.

Yaa Allah.....
Leburkan EGO kami dengan Kelembutan-MU Ya Rohmaan, agar kami melangkah dalam hidup ini, berdasarkan Kehendak-MU semata.
Sungguh Kehendak-MU adalah yang terbaik dan sangat terbaik dan paling terbaik.
Maka tidak ada kehendak lain yang terbaik selain Kehendak-MU wahai yang menanamkan CINTA di hati-hati para Pencinta-MU.

Bi Alfi.. Alfi.. Alfi..
Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil Adziim.
Wa Bisyafa’ati Rosulullahi Shollallaahu ‘Alahi Wassalam.
Maqbuulin Yaa…Allah...
Maqbuulin Yaa..Rohmaan...
Maqbuulin Yaa..Rohiim Yaa Mujiibassaa’iliin.
Washollallahu Alaa Sayyidina Muhammadinnabiyyil Ummatii Wa Kasyifil Ghummatii, Wa Alaa Aalihi Wa Shohbihii Wassallima Tasliiman Katsiiro.
Subhaana Robbika Robbil ‘Izzati ‘Amma Yaashifuun Wassalaamun Alal Mursaliin.
Wal HAmdulillaahi Robbil ‘Aaalamiiin...

Abi… Abi... Aku masih ingat Alif.. Aa'.. Ta'.. Tsa'..


                                                     . بِسْـــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ . 

Kisah ini sungguh membuatku menangis...

Membaca kisah ini membuatku ingat akan Kebesaran Allah, ingat akan anak-anakku, dan ingat bahwa Allah selalu akan menyelamatkan keturunan orang-orang shaleh..
Allahu Akbar...!

Kisah Hidup Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap tahanan penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu melintasi di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘boot keras’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka.
Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

“Hai… Hentikan suara jelekmu..! Hentikan…!”
Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi..?
Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya.
Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.

Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyundut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.
Sungguh ajaib…
Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan.

Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata :
"Rabbi, wa ana ‘abduka…"
Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata,
“Bersabarlah wahai ustaz… Insya Allah tempatmu di Syurga”.

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di lantai.

“Hai orang tua busuk...!
Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu...?!
Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu...!
Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ‘suara-suara’ yang seharusnya tidak didengari lagi di sini.
Sebagai balasannya engkau akan kubunuh.
Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami”.

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin.
Ia lalu berucap,
“Sungguh… Aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah.
Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk..?
Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh".

Sejurus saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya.
Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’.
Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.

“Berikan buku itu, hai laki-laki dungu..!” bentak Roberto.

“Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini..!” ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah.

Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.
Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya berang. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh.
Mendadak algojo itu termenung.

“Ah… Seperti aku pernah mengenal buku ini.
Tetapi kapan...?
Ya, aku pernah mengenal buku ini".

Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu.
Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.
Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekacauan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.

Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang anak- anak laki-laki lucu dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.
Bocah lucu itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan.

Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti abinya. Sang anak itu berkata dengan suara parau,
“Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi…”.

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat .
Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya,
“Abi… Abi… Abi…”
Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat petang kemarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai…siapa kamu...?!” Jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati bocah tersebut.
“Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawabnya memohon belas kasih.
“Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi...!” bentak salah seorang dari mereka.
“Saya Ahmad Izzah…” dia kembali menjawab dengan agak kasar.
Tiba-tiba “Plak..! Sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil.
“Hai bocah…! Wajahmu tampan tapi namamu bodoh. Aku benci namamu.
Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik.
Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ Awas...! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh..!” ancam laki-laki itu".

Bocah itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitikkan air mata. Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi.
Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat perut laki-laki itu.
Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeria,
“Abi… Abi… Abi…”
Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.
Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.
Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bagian pusat perut.

Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut,
“Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…”
Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini sedang memeluknya.
“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…”.
Terdengar suara Roberto meminta belas.

Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap.
“Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu".

Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah
“Asyahadu anla Illaahailla llah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah…".
Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim Ulama di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya.

Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya…
”Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy".

Benarlah firman Allah…

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu.
Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
(QS : 30:30).

Rabu, 01 Februari 2012

Aku Rapuh


Kau sungguh indah di mataku....
Kau slalu terbayang bayang di hatiku....
Kau selalu memburku dengan hatimu itu ...
Kau adalah sumber kehidupanku.... 
Tanpa mu.... 
Ku tak bisa hidup....
Walaupun kau sudah membenci ku...
Kau tidak akan terganti di hatiku untuk selama lamanya....  
Ku harap kau mau kembali kedalam hati ku ini....
Yang sudah rapuh dan tak mungkin tegar kembali....

I LOVE U 






...::: ABS :::...

Minggu, 31 Juli 2011

Bilamana Ini ULTAH Terakhirku.....


Aku merasa hari-hari ku begitu cepat, umur ku pun makin berkurang. Satu tahun lalu terasa begitu cepat. Namun sekarang waktu terasa begitu lambat.
Entah apa yang menjadikan semua ini terasa hambar. Apa jam dinding ku yang battrey nya habis, atau malah jangan-jangan mesinnya yang malah eror.....!?
Entah apa pula yang harus aku lakukan demi nundukin hati dari kegetiran ini, kepalsuan kian jelas tergambar.

Gugusan bintang telah aku sibak demi menatap terang nya cahaya.
Bumi pun aku koyak demi mencari seutas tali, tali yang selama ini mengantar ku, mengikat ku dan menjaga ku untuk membumbung ke angkasa.
Tali benang, yang meski halus, lembut, namun mampu mengendalikan layang-layang yang telah aku tumpangi.

Aku mengudara dengan begitu tenang nya.
Aku laksana penguasa yang tiada tandingan di antara sesama.
Aku melayang, menerjang, berlari dan berteriak dengan riang.
Aku menari dengan irama lembut nan gemulai.

Namun semua itu entah kemana lagi....??

Keriangan ku telah usai.
Senandung nyanyian pun kian serak.
Teriakan ku pun makin parau.

Huuuuuufftz........!!!

Apa yang terjadi......!?
Kemana layang-layang ku.....!?
Kemana benang ku.....!?
Kemana pula kebebasan ku.....!?

Aku tak tau lagi, dengan apa yang sedang dan mau aku jalani.

Aku senang.........! Memang.
Aku riang............! Jelas.
Aku damai..........! Pasti.

Tapi........
Semua itu semu.
Semu dan tiada kebenaran dalam kehidupan nyata ku.
Aku hanya mampu bersandiwara dengan kepalsuan senyum dan tawa.

Kalau sekaran aku menyakitkan.....!?
Ya maaf saja, aku tak ada niatan untuk menyakiti semua.
Aku tak tau kalian.
Aku juga tak kenal diri ku sendiri.

Aku.......

Aku sudah usai..... 
Aku sudah mati..... 

Kalau pun aku masih ada seperti yang terlihat sekarang, itu mungkin hanya jasad ku yang gentayangan.

Aku tak tau.
Tak tau apa setelah ULTAH ku hari ini, aku masih bisa ketemu dengan ULTAH tahun depan atau tidak.

Yang jelas, maafin aku.....
Maafin aku yang sengaja atau tidak, telah menyakiti kalian semua.

Aku sudah tidak bisa mengenali diri ku sendiri.
Sandaran kursi ku sudah hancur oleh lapuk.
Sandaran hidup ku pun telah mati.

Aku hanya, sekali lagi minta..
Maafin aku.....
Maafin aku.....
Maafin aku.....


Oleh : Arvin Badar Syabikin 


...::: ABS :::...

Rabu, 13 Juli 2011

Kangen Sank Kasih


Aku kangen waktu itu..... 
Aku kangen kebersamaan itu.....
Aku kangen senyum itu.....
Aku kangen tangisan itu.....


Aku kangen kemolekan itu.....
Aku kangen nakal itu.....
Aku kangen binal itu.....
Aku kangen desah nafas itu.....


Dan.....
Aku kan selalu kangen..... 


Aku hanya lunglai di ranjank ini..... 
Aku hanya dekap gulink ini.....
Aku hanya tatap gambar di smua media ini.....
Aku hanya terbarink dalam sepi hati ini.....


Aku .....
Aku kangen ini.....


Kenangan :  

Oleh : Arvin Badar Syabikin
To    : Someone... 


...::: ABS :::...


Rabu, 29 Juni 2011

Malam Yang Pedih


Masa demi masa ku telusuri.....
Tanpa ku tahu kapan akan berhenti.....
Demi mencari serpih serpih hati yang telah pergi.....
Kadang aku harus terjatuh berulang kali.....

Namun kutetap mencoba tegak berdiri.....
Terus tak henti hentinya menapak jalan tak bertepi.....
Namun tak pernah kumengerti.....
Apa yang sebenarnya tersembunyi di antara sendiri dan sunyi ini.....

Hanya aku dan malamku yang terus kan hantui.....
Bersama pedih dan perihnya luka hati.....
Seiring menusuknya dingin dengan duka yang racuni diri.....
Sampai nanti hanya ada aku dan malamku yang penuh duka ini.....

Hingga aku tak mampu lagi.....
Hingga aku hanya bisa terdiam tak berarti..... 


Oleh : Arvin Badar Syabikin 

...::: ABS :::... 

Sabtu, 25 Juni 2011

I Love U Bunda ku.....


Ya ALLAH...!
Jagalah bundaku dikala penjagaanku tak sampai padanya.
Sayangi bunda dikala sayangku tak mampu merengkuhnya dalam dekapan nyata.
Muliakanlah bunda dikala penghargaanku tak terangkum dalam kata yang sahaja.

Karena.....!!
Engkau yang maha berkuasa.
Engkau punya apa yang tak aku punya....
Dan.....

Karena aku inginkan bunda selalu jadi bundaku di dunia dan kalaupun kelak harus kembali, aku berharap bertemu dengan bunda di SURGA......
AMIIIIN Ya Robb......... :)

::: ::: I Love U bunda......



Oleh : Arvin Badar Syabikin 
To : Bunda ku 


...::: ABS :::...