Sabtu, 06 November 2010

“Patahnya Sayap Sang Kesatria”. Part-II

Tunas Ku............!!!!!!  

Tunas yang aku tanam, tumbuh subur dalam balutan kasih sayang yang penuh dengan siraman keindahan nan irama menggelora. Semua yang lalu lalang ikut bangga melihatnya, meski cuma sekedar memandangnya. 
Namun di luar sana ada juga yang memandang sebagai suatu tanaman yang tak jauh beda dan tak harus terawat sedemikian itu......!!! 
Mencibir, memaki bagiku suatu hal yang biasa dan itu hak mereka. 

Tunas kian lama kian subur, daunya yang hijau seakan lambaian lembut tangan bayi. 
Andai si tunas berani dan bisa ngomong, maka saat itu si tunas cuma mau bilang......:  
"Ayah, lindungi aku......!!! Bunda,sayangi aku bun.....!!! ".  

Namun tunas seakan tak mampu untuk mengutarakan nya.
Daun nya kian mengembang, menari nari di atas angin yang meniup nya.
Belum sempat dedaunanya kering (masih hijau), dedaunan yang kian hijau itu terpotong, terlepas dan terbuang gitu aja. 
Andai masih bisa di manfaatin, misalnya sebagai daun pembungkus (ketupat), mungkin masih bagus dan mendingan. 

Tapi..............!!! 
Daun terbuang begitu aja. 
Apa si ruginya membiarkan daun hijau itu tetap terurai dengan siraman angin........??? 
Yang mungkin akan diam dan bertasbih, kala malam mencekam.. 

Kegelisahan sang tunas makin terus dan tak berujung. 
Daunnya pun bukan cuma tak subur, tapi malah lebih memiluhkan, pupus daun pun tak keluar lagi. 
Siraman demi siraman sudah penuh, bahkan membanjiri sekitarnya. 
Tapi pupus daun pun belum juga tumbuh. 

7 Tahun kemudian pupus pun (baru mulai) tumbuh dan sudah sedikit mekar. 
Hijau, mungil dan terlihat cantik yang mungkin juga sudah sunnatullah. Pupus daun yang masih kekuning-kuningan itu terurai dan berkelebat. 
Klebatan pupus daun kembali menjadikan penderitaan bagi tunas pisang yang sudah tumbuh besar itu. 


5 Tahun (setelah pupus baru mulai mekar), dan tak cuma pupus barunya aja yang di potong, tapi batang nya juga di potong. 
Tunas pisang kecil yang sudah tumbuh besar semakin bertambah tersiksa, lebih dan lebih karena bukan sebatas batang yang di potong, tapi di tarik, di cabut sampai terangkat semua akarnya.

Sambil terisak tangis,sang tunas pun menggumam : 

Bisakah aku tumbuh, bunda.....? 
Kalau akar ku aja gak tertancap di tanah. 

Bisakah aku menikmati angin segar bun.....?
Kalau batang ku juga sudah terbaring di tanah gini.  

Mungkinkah aku bisa bertunas lagi bun.....?
Mungkin kah bunda.....?!?!?


Oleh :  Arvin Badar Syabikin  
http://www.facebook.com/arvin.badar 

By : @arvinbadar & @AB_Story® :::...

    Tidak ada komentar: